Kisah ini dimulai dengan
Keenan, seorang remaja pria yang baru lulus SMA, yang selama enam tahun tinggal
di Amsterdam bersama neneknya. Keenan memiliki bakat melukis yang sangat kuat
dari ibunya dan ia tidak punya cita-cita lain selain menjadi pelukis, tapi
perjanjiannya dengan ayahnya memaksa ia meninggalkan Amsterdam dan kembali ke
Indonesia. Keenan diterima berkuliah di Fakultas Ekonomi Bandung dan meraih
nilai IP tertinggi selama 2 semester berturut-turut. Keenan pun harus menjadi
bukan dirinya sendiri untuk mengikuti kehendak ayahnya.
Sementara, di sisi lain, ada Kugy, seorang cewek unik yang hobi
berkhayal dan cenderung banyak kejutan di dalam kehidupannya. Kugy sangat
menggilai dongeng. Tak hanya mengkoleksi buku-buku dongeng dan punya taman
bacaan, Kugy juga sangat senang menulis dongeng. Walaupun Kugy yakin menjadi
seorang juru dongeng bukanlah profesi yang meyakinkan yang akan diterima dengan
mudah oleh khalayak umum. Akan tetapi, Kugy tak ingin lepas begitu saja dari
dunia tulis menulis. Tak beda dengan Keenan, Kugy pun mempunyai cita-citanya
sendiri, yaitu menjadi juru dongeng. Kugy juga mempunyai hobi menulis surat kepada Dewa
Neptunus. Surat tersebut dilipat menjadi perahu kertas dan dihanyutkan
di sungai atau laut. Kugy menganggap dirinya adalah seorang agen Neptunus.
Kugy lantas
meneruskan pendidikannya di Fakultas Sastra dan di universitas yang sama dengan
Keenan.
Kugy dan Keenan dipertemukan lewat pasangan Eko dan Noni. Eko adalah
sepupu Keenan. Sementara Noni adalah sahabat Kugy sejak mereka berdua masih
kecil. Pertemuan
mereka berawal disaat Noni yang harus nemani sang pacar untuk menjemput
sepupunya yang sudah lama tidak bertemu. Dan pertemuan mereka tidak
sampai disitu saja, berlanjut dengan hobi mereka yang keren, nonton bioskop
midnight, sehingga seperti double date, antara Noni - Eko dan Kugy-Keenan.
Setelah
hubungan mereka menjadi semakin dekat, ternyata Kugy dan Keenan diam-diam
saling mengagumi dan tanpa mereka sadari mereka saling jatuh cinta, tanpa
pernah ada kesempatan untuk saling mengungkapkan, dikarenakan situasi yang
tidak memungkinkan. Kugy yang sudah hampir dua tahun berpacaran dengan
cowok bernama Joshua yang biasa dipanggilnya Ojos. Bagi Kugy, ungkapan opposite attract adalah yang paling
sempurna untuk menggambarkan dinamikanya dengan Ojos. Keduanya bertolak
belakang hampir dalam segala hal. Ojos yang necis dan jago basket adalah pujaan
banyak cewek di sekolah karena kegantengannya, dan dijuluki Prince Charming. Di sisi yang
berbeda, Kugy pun termasuk sosok populer di sekolah karena aktivitas dan
pergaulannya yang luas. Tapi Kugy berasal dari kutub yang berbeda. Kugy dikenal
dengan julukan Mother Alien. Ia
dianggap duta besar dari semua makhluk aneh di sekolah.
Konflik mulai muncul disaat Noni yang berencana
untuk mencomblangkan Keenan dengan Wanda, seorang
kurator muda yg merupakan sepupunya. Pencomblangan ini membuat hubungan antara Keenan
dan Kugy menjadi semakin jauh. Persahabatan empat
sekawan itu mulai merenggang sejak adanya Wanda. Kugy pun berencana untuk
menjauh dari semua yang terjadi, dan juga ingin menjauh dari seorang yang
bernama Keenan, tetapi akhirnya Kugy mengerti bahwa dia sebenarnya sudah mulai menyukai Keenan. Kugy
lantas menjalani kegiatannya yang baru dan sibuk dengan kegiatan itu, yakni
menjadi guru relawan di sekolah darurat bernama Sakola Alit. Di sanalah Kugy
bertemu dengan Pilik, murid laki-laki yang tertua dikelasnya. Pilik dan
kawan-kawannya berhasil ditaklukan oleh Kugy dengan cara, membuatkan mereka
kisah petualangan dengan mereka sebagai tokohnya, yang diberi judul: Jendral
Pilik dan Pasukan Alit. Kugy menuliskan kisah petualangan murid-muridnya
itu di sebuah buku tulis, yang kelak diberikan kepada Keenan.
Pada saat
pesta ulang tahun Noni yang berlangsung di halaman rumah Wanda, Kugy tidak
dapat hadir dikarenakan tidak sanggup jika harus melihat kedekatan Keenan dan
Wanda disana. Noni pun kecewa dan itu semua membuat hubungannya dan Noni
merenggang. Disaat yang sama hubungan Keenan dan Wanda yang semula mulus,
akhirnya hancur dalam semalam. Begitu juga dengan impian Keenan yang selama ini
ia bangun dan perjuangkan kandas dengan cara yang mengejutkan bersamaan dengan
hancurnya hubungannya dengan Wanda. Wanda yang semula ia kira tulus membantunya
ternyata hanya berusaha untuk mendekati dan mencari perhatiannya. Keenan merasa
kebohongan ini terlalu gigantis untuk ia cerna, ia sudah merasakan kehancuran
yang terjadi didalam dirinya setelah ia mengambil sebuah keputusan yang sangat berani untuk berhenti kuliah, berkomitmen
mandiri secara ekonomi, dan total hidup dengan
melukis sehingga ia
terusir dari keluarganya sendiri. Keenan
pun memilih meninggalkan kehidupannya di Bandung dan keluarganya di Jakarta,
lalu pergi ke Ubud dan tinggal bersama Pak Wayan yang merupakan sahabat ibunya.
Masa-masa bersama keluarga Pak Wayan, yang
semuanya merupakan seniman-seniman sohor di Bali, pelan-pelan mulai mengobati
luka hati Keenan. Sosok yang paling berpengaruh dalam penyembuhannya adalah
Luhde Laksmi, keponakan Pak Wayan. Keenan mulai bisa melukis lagi. Berbekalkan
kisah-kisah Jenderal Pilik dan Pasukan Alit yang diberikan Kugy padanya, Keenan
menciptakan lukisan serial yang menjadi terkenal dan diburu para kolektor.
Kugy,
yang kesepian dan kehilangan sahabat-sahabatnya di Bandung, mulai menata ulang
hidupnya. Ia berencana lulus kuliah
secepat mungkin dan langsung bekerja. Ia pun menyelesaikan kuliahnya dalam
waktu 4 tahun dan mendapatkan nilai A plus. Setelah lulus kuliah, Kugy di bantu oleh Karel yang merupakan abangnya
untuk mencari pekerjaan. Iapun berencana magang di sebuah biro iklan di Jakarta
sebagai copy writer. Di sana, ia bertemu dengan Remigius Aditya, atasan yang
sekaligus sahabat abangnya. Dengan cara yang tak terduga karier Kugy naik daun dari
seorang copywriter menjadi project
leader orang di kantor itu karena karena dianggap prodigy atas ide-idenya yang gila.
Namun
sosok Remigius tidak melihat Kugy dari sisi itu. Remi menyukai Kugy tidak hanya
dari ide-idenya, tapi juga semangat dan sisi keunikan Kugy. Dan akhirnya Remi
pun harus mengakui bahwa ia jatuh hati kepada Kugy. Sebaliknya, ketulusan Remi
meluluhkan hati Kugy dan membuatnya memilih Remi. Sementara disis lain, karena
kondisi ayahnya yang memburuk, Keenan terpaksa kembali ke Jakarta dan meninggal
Bali serta Luhde untuk menggantikan ayahnya menjalankan perusahaan keluarga.
Setelah
membaca Sebuah scrapbook tanpa judul
yang di temukan Ellen tertinggal di bekas kamar kos Kugy, Noni pun
mengenali cerita-cerita yang ditulis di sana. Kumpulan cerita yang dibuat Kugy
bertahun-tahun tanpa pernah ia publikasikan, hanya dipamerkannya ke beberapa
orang, termasuk dirinya. Di halaman pertama, terlekatlah fotokopi tulisan
tangan Kugy sewaktu kecil. Noni pun hafal tulisan itu. Kugy sering menuliskannya
di buku-buku dongeng koleksinya, terutama pada buku-buku yang ia anggap
spesial. Sebuah kutipan dari W.B Yeats. Di sampul paling belakang, terdapat
selipan yang bisa dipakai untuk menyimpan sesuatu. Noni tidak akan mengeceknya
jika saja ujung kertas putih yang diselisipkan di sana tidak menyembul keluar.
Diambilnya kertas itu. Sebuah amplop putih, berisi sehelai kartu. Selama tiga
tahun lamanya Noni baru mengetahui mengapa dulu Kugy selalu menghindar, mengapa
Kugy tidak datang ke pestanya, mengapa Kugy akhirnya memilih pisah dengan Ojos,
mengapa Kugy seperti orang tertekan. Itu semua karna Kugy memendam perasaan
terhadap Keenan. Noni pun ke Jakarta untuk menemui Kugy dan meminta maaf serta
mempersiapkan pesta pertunangannya bersama Eko.
Pada
acara pertunangan Noni dan Eko, pertemuan Kugy dan Keenan pun tidak terelakkan.
Bahkan empat sekawan ini bertemu lagi dan bercanda seperti waktu mereka kuliah
dulu. Tapi semuanya kini dengan kondisi yang berbeda. Suatu hari Keenan
mengajak Kugy untuk pergi mengunjungi Sakola Alit dan menemui Pilik di Bandung.
Betapa terkejutnya mereka setelah melihat Sakola Alit dan pemukiman tempat
Pilik tinggal telah digusur. Mereka pun harus menerima kenyataan bahwa Pilik
sudah meninggal akibat menderita tifus tiga bulan yang lalu tanpa mampu mencari
pertolongan medis.
Setelah
menghabiskan waktu seharian, Keenan dan Kugy pun berencana membuat karya
bersama. Kugy membuat cerita serial Jendral Pilik Dan Pasukan Alit sementara
Keenan yang membuat ilustrasinya. Setiap malam minggu Keenan pun kerumah Kugy
untuk mengambil naskah cerita tersebut.
Disisi
lain, Luhde yang sudah rindu kepada Keenan membulatkan tekatnya untuk menyusul
Keenan ke Jakarta. Bermodalkan tabungan yang seadanya, Luhde berangkat naik bus
ke Jakarta. Karena pak Wayan sedang
pergi ke Lombok selama seminggu, dan itulah kesempatannya untuk melaksanakan
perjalanan nekat ini.. Sesampainya di Jakarta, Luhde pun langsung menuju rumah
Keenan, Keenan seperti melihat hantu ketika mendapatkan Luhde berdiri di teras
depan rumahnya, berdiri santun menyambut kedatangannya.
Setelah
menghabiskan waktu selama seminggu di Jakarta, Keenan pun mengantar Luhde
kembali ke Ubud. Disaat yang sama Kugy,Remi serta karyawan kantor berangkat ke
Bali untuk mengikuti acara outing.
Sesampainya di Bali, Remi yang ternyata adalah pembeli pertama lukisan Keenan
mengajak Kugy ke Ubud untuk mampir ke galeri Pak Wayan. Diperjalanan
menuju rumah Pak Wayan, sebuah pura yang kecil dan sepi, terletak persis di
tepi jalan. Tidak ada yang istimewa jika diamati sekilas pintas. Namun, Kugy
merasa harus berhenti di sana, membiarkan Remi pergi ke galeri langganannya
sendirian. Di pura itu Kugy bertemu dengan Luhde, merekapun saling berkenalan,
mereka terlihat sangat akrab.Ternyata Luhde memiliki hobi yang sama yaitu membuat
cerita, Kugy pun mengeluarkan selembar kertas lalus menuliskan e-mail serta
alamat lengkapnya kepada Luhde agar mereka bisa bertukar cerita.
Tiba-tiba
tampak sebuah mobil berhenti di seberang jalan. Suara klakson berbunyi pendek
satu kali. Kugy segera bangkit berdiri,
dan berpamitan pada Luhde karna Remi telah menjemputnya.
Begitu
melihat tulisan tangan tadi, Luhde langsung tahu siapa yang ia hadapi. Tak
mungkin salah lagi. Bagaimana bisa ia tidak hafal tulisan tangan itu,
bertahun-tahun ia membacanya, meresapi berlembar-lembar cerita yang dituliskan
oleh tangan yang sama dalam sebuah buku tulis usang. Bagaimana bisa ia tidak
hafal. Keenan selalu membawa buku itu ke mana-mana, menjadikannya bintang
inspirasi selama karier melukisnya yang cemerlang di Ubud. Keenan melukis
dengan penuh cinta, dengan hati dan nyawa. Luhde bersyukur karena kini ia tahu
apa yang menjadi alasan Keenan bisa menjangkarkan hatinya begitu dalam. Dan,
meski dengan susah payah, Luhde berusaha mensyukuri kepedihan yang menyayat hatinya
sekarang.
Hari
terakhirnya di Ubud. Sore nanti, Keenan sudah harus terbang kembali ke Jakarta.
Begitu selesai berkemas, ia keliling-keliling mencari Luhde. Di mana-mana Luhde
tidak kelihatan. Keenan bisa merasakan, Luhde menghindarinya sejak kemarin. Ia
kelihatan lebih pendiam, seperti memendam sesuatu. Setelah mencari ke sana
kemari, Keenan menemukannya mengurung diri di kamar..Keenan tetap tidak
mengerti apa yang membuat Luhde begitu galau. Keenan pun berpamitan pada Luhde
dan berjanji akan kembali lagi ke Ubud.
Minggu
Malam. Saatnya Keenan menjemput naskah Jenderal Pilik yang sempat tertunda
karena acara outing di kantor Kugy. Tapi tak hanya itu, Keenan sekaligus
mengajak Kugy untuk makan malam di sebuah restoran Jepang untuk memberitahu
bahwa proyek karya bersama mereka sudah punya penerbit yaitu Pak Ginanjarsalah
satu pencinta lukisan Keenan yang punya penerbitan.
Pada hari minggu, Remi pergi ke sebuah hotel untuk meeting di coffe
shop yang ada disana. Namun, perjalanannya menuju hotel ini sempat terhambat
karena ada keramaian lalu lintas tak terduga akibat parkiran mobil yang
berbondong-bondong ke pameran besar dekat sana. Sesampainya disana Remi segera
menuju coffe shop. Setelah pintu lift
membuka. Remi bergegas melangkah keluar. Bertubrukan dengan seseorang yang mau
masuk ke lift. Merekapun nyaris berbarengan mengucap maaf. Remi yang sedari tadi menunduk, sontak
mendongak mendengar namanya dipanggil. ia pun kaget mengenali pria di
hadapannya adalah Keenan. Merekapun saling bercakap-caka, Remi pun memberi
nomor HPnya kepada Keenan dan merekapun berpisah. Tak berapa lama Lift itu lalu
kembali menutup. Di dalamnya, Keenan geleng-geleng kepala. Takjub sendiri.
Sekian lama berusaha menutupi jejak, malam ini ia harus bertemu dengan Remi
dengan cara yang sama sekali tidak diduga. Barangkali memang sudah waktunya,
pikir Keenan. Sementara itu, dalam perjalanannya menuju coffee shop, pikiran Remi masih terpaku pada pertemuannya dengan
Keenan tadi. Masih sulit memercayai apa yang terjadi. Hidup dengan tak tertebaknya
mengantarkan Keenan begitu saja di depan mukanya pada suatu malam, padahal
sekian lama sudah ia mencari Keenan dengan segala macam cara. Tidak ada yang
kebetulan, pikir Remi, terlepas dari kesanggupan dirinya memahami makna besar
di balik pertemuan itu.
Sore hari, Remi pun menelpon Keenan dan mengajaknya ketemuan.
Merekapun bertemu di kantor Keenan dan mulai berbagi cerita tentang diri mereka
masing-masing. Remi pun bercerita bahwa ia berencana untuk melamar pacarnya,
Keenanpun sangat antusias mendukung Remi dan tanpa ia ketahui bahwa pacar yang
dimaksud Remi adalah Kugy.
Luhde
menyandarkan kepalanya di dinding, memandangi pamannya yang duduk
memunggunginya. Sudah beberapa hari ini, Luhde malah tidak bisa tidur. Hatinya
resah. Nyaris tidak pernah tenang. Ia pun berkata bahwa ia tak ingin menjadi
seperti pamannya ataupun Lena ibunya Keenan yang sepuluh sampai dua puluh tahun
dari hari ini saya masih terus-terusan memikirkan orang yang sama dan bingung
di antara penyesalan dan penerimaan.
Semenjak
pamannya berpisah dengan Lena, pria itu tidak pernah jatuh cinta lagi. Ia
memilih hidup sendiri dan tidak menikah dengan perempuan mana pun. Baginya,
Lena adalah yang terakhir dan tak tergantikan. Lebih baik hidup sendiri
daripada hidup dalam kebohongan, begitu kata pamannya selalu. Pak Wayan harus
rela berpisah dengan Lena karena Lena tidak mungkin mengorbankan Keenan dalam
perutnya bukan karena Adri.
Pada
malam minggu, seperti biasanya Remi pergi kerumah Kugy. Kugy keluar rumah
dengan membawa hasil foto-fotonya selama di Bali. Remipun mengenali perempuan
dalam foto Kugy itu adalah Luhde keponakannya Pak Wayan. Remi juga bercerita
bahwa Luhde adalah kekasih dari pelukis favoritnya yaitu Keenan. Kugy ingat
perasaan ini. Sama seperti ketika ia tahu soal Wanda dulu. Bedanya, kali ini ia
begitu menyukai Luhde. Bahkan, jatuh sayang. Dan meski selama ini ia yakin
bahwa hatinya sudah berubah, lagi-lagi ia harus menyadari dengan cara yang
getir, bahwa hatinya belum berubah.
Keenan
muncul di ruang tamu rumah Kugy lebih awal. Hari ini ia janji membawa Kugy
untuk menemui Pak Ginanjar, yang juga sama-sama sudah tidak sabar ingin bertemu
Kugy. Jika semuanya berjalan sesuai rencana, dalam minggu ini mereka bahkan
sudah bisa menandatangani kontrak kerja sama untuk penerbitan dongeng serial
Jenderal Pilik dan Pasukan Alit. Keenanpun mengajak Kugy untuk makan es krim
sebelum menemui Pak Ginanjar. Sepanjang jalan, Kugy lebih banyak diam. Hanya
Keenan yang aktif melempar berbagai topik obrolan, dan ia hanya menanggapi
sekenanya. Sesampainya di parkiran restoran es krim favorit mereka di Kemang,
beban di hatinya terasa kian menyesak. Ketika mereka melangkah keluar mobil,
Kugy juga merasa langkah kakinya bertambah berat. Mereka berdua lantas memasuki
restoran, duduk di tepi jendela. Gerimis kecil turun di luar sana. Kugy
membuang pandangannya ke jendela, mengamati hujan. Kugy pun meminta untuk
istirahat untuk menulis cerita selama sebulan lalu ia pulang dengan menggunakan
taksi.
Sesampainya
didepan rumah, Kugypun terkejut melihat Remi sudah menunggunya. Tiba-tiba Remi
menunduk, mengambil tangan kiri Kugy. Meraih jari manisnya dan melingkarkan
sebuah cincin bermatakan berlian rose
cut. Remi berkata bahwa ia ingin Kugy menjadi pendamping hidupnya.Dada
Kugy menyesak. Napasnya mulai satu-satu. Setiap kata yang diucapkan Remi
seperti balok beton yang mengimpit dadanya. Dan cincin berkilau yang tersemat
di jarinya itu bagaikan hantaman godam yang menjadi gong dari rangkaian balok
beton yang menghunjaminya. Kugy memejamkan mata. Semua yang ia alami dan ia
dengar hari ini berada di luar kesiapannya, kekuatannya. Bibirnya mengunci.
Remipun tahu bahwa gelagat Kugy berubah. Iapun pulang dan memberi waktu untuk
Kugy memberi jawabannya.
Kugy
berencana untuk menyendiri dan tinggal dirumah Karel. Setiap hari hanya
dihabiskannya untuk melamun di sebuah balkon kecil di bagian belakang rumah,
tempat menjemur pakaian. Sudah tiga hari sejak kejadian di restoran es krim
itu. Kugy masih belum bisa dihubungi. Keenan tidak tahu lagi siapa yang bisa ia
mintai keterangan. Noni adalah upaya terakhirnya. Nonipun tidak mengetahui dimana keberadaan Kugy.
Noni
sudah sampai duluan di restoran es krim di bilangan Kemang, tempat ia janjian
dengan Keenan untuk membahas Kugy yang masih belum ditemukan. Tak sampai lima
menit menunggu, mobil SUV Keenan memasuki parkiran. Tampak Keenan keluar dari
mobil, masih memakai setelan kantor. Keenan memaksa Noni untuk menceritakan
penyebab peselisihannya dan Kugy tiga tahun yang lalu, karena ia mengira
hilangnya Kugy kali ini ada hubungannya dengan semua itu.
Karena di
paksa, Nonipun menceritakannya. Lalu Keenanpun terkejut saat Noni mengatakan
bahwa Kugy mencintainya. Noni menyuruh Keenan untuk menelpon pacar Kugy untuk
menanyakan keadaan Kugy. Keenanpun memencet nomor yang Noni sebutkan. Jempolnya
lalu menekan tombol call. Betapa terkejutnya Keenan saat mengetahui bahwa nomor
tersebut adalah nomor Remigius Aditya
yang tersimpan di kontak Hpnya.
Keenan berpikir bahwa Kugy ada dirumah Karel. Iapun
lalu mencari tahu alamat Karel. Sudah hampir gelap
ketika Keenan sampai di rumah itu. Karel sendiri yang membukakan pintu. Ia
tampak terkejut melihat kedatangan Keenan. Keenanpun bertanya tentang
keberadaan Kugy dan Karelpun menyuruhnya menemui Kugy yang sedang berada
dibalkon.Kugypun terkejut mendengar Keenan memanggilnya.
Keenan
tiba-tiba menghampiri Kugy dan berkata bahwa ia mencintai Kugy dari pertama
mereka bertemu dan sampai kapanpun. Iapun menagtakan bahwa ia sudah tahu
tentang Remi dan ia merelakan Kugy Cuma untuk Remi. Kugypun berkata bahwa ia
tak sengaja bertemu Luhde di Ubud dan menyuruh Keenan untuk tidak melepaskan
Luhde. Kali ini, Keenan akhirnya mengerti. Sikap Luhde yang berubah drastis
setelah pulang dari pura. Sikap Kugy yang juga berubah setelah kembali dari
Bali. Akhirnya ia memahami. Tiba-tiba
Kugy menyuruh Keenan untuk pergi, Keenan mengangguk. Memang tak ada lagi
yang perlu dibicarakan. Hanya akan membuat hatinya makin terluka. Kugy
menyadari bahwa persahabatan barangkali adalah muara terakhir yang harus ia
paksakan untuk menampung seluruh perasaannya pada Keenan.
Di tempat
yang sama, Kugy menangis bisu. Ia berjanji, inilah tangisan terakhirnya untuk
Keenan, sekaligus tangisan yang paling menyakitkan. Ia bahagia sekaligus patah
hati pada saat yang bersamaan. Saat ia tahu dan diyakinkan bahwa mereka saling
mencintai, dan selamanya pula mereka tidak mungkin bersama.
Keesokan
harinya, Kugy memutuskan keluar dari tempat persembunyiannya. Berhenti menjadi
parasit di rumah Karel. Kembali pulang ke rumah. Dan orang paling pertama yang
ia hubungi adalah Remi. Hanya dibutuhkan satu telepon untuk mendaratkan Remi ke
rumahnya. Pria itu tak menunggu lebih lama lagi. Begitu Kugy menghubunginya,
Remi langsung berangkat malam itu juga menemui Kugy. Kugy lalu menyerahkan buku
dongeng yang tak pernah berpindah tangan dan dulu ingin ia berikan pada Keenan
untuk Remi sebagai tanda bahwa ia menerima lamaran Remi.
Enam bulan sudah semenjak kedatangannya kembali ke Jakarta. Ayahnya
telah berubah drastis. Manusia itu telah menjadi bukti hidup bahwa mukjizat itu
ada. Seseorang yang terkapar lumpuh sama sekali, dengan prediksi kerusakan
fatal di sana sini, berhasil sembuh dan berfungsi seperti sedia kala. Ia telah
lama meninggalkan kursi roda dan alat bantu apa pun. Setiap pagi, ia bahkan
sudah melakukan aktivitas senam ringan, sesuatu yang dilakukannya setiap hari
saat ia masih sehat dulu.
Segala sesuatunya memang sudah hampir seperti dulu, kecuali satu.
Kembali ke kantor. Itulah satu-satunya hal yang masih belum disarankan dokter.
Semua orang tahu, Keenanlah penyebab sekaligus penawar yang kemudian
mendatangkan keajaiban tersebut. Tak hanya mendampingi ayahnya kapan pun ia
bisa, Keenan bahkan menggantikan fungsi operasional ayahnya setiap hari di
kantor. Memastikan perekonomian keluarga mereka masih bisa berjalan seperti
biasa.
Namun, Keenan pun tahu, saat ini pasti tiba. Keajaiban yang satu
hari harus berhadapan dengan kejujuran. Dan tak ada yang tahu pasti, mana yang
akan keluar sebagai pemenang. Hati-hati, Keenan membuka pintu kamar
orangtuanya. Tampak ayahnya sedang duduk sendirian di tempat tidur, membaca
buku. Keenanpun berkata pada ayahnya bahwa ia ingin berhenti bekerja di kantor
dan meneruskan hobinya untuk melukis. Adri tak tahu dari mana harus
menjelaskan. Cerita yang sudah berkarat tapi menghantuinya selama puluhan
tahun. Dunia lukisan adalah penghubung Lena dengan cinta lama yang seperti tak
mengenal kata mati. Dunia lukisan kembali menjadi penghubung anaknya dengan
seseorang yang selalu ingin ia hindari entah karena perasaan bersalah, atau
justru karena perasaan tersaingi. Dan semua itu pernah begitu membutakannya
hingga ia ingin membunuh potensi Keenan dengan cara apa pun. Namun, Adri tidak
punya kesanggupan untuk menceritakannya. Tapi tanpa pernah Keenan bayangkan
pada hari itu ayahnya mengizinkannya untuk melukis. Tubuh Keenan pun bergerak
maju, lengannya membuka, merengkuh ayahnya. Untuk pertama kalinya dalam belasan
tahun, ia merasa dipahami. Dan memahami. Bahwa apa yang tak terucap terkadang
tak lagi penting. Keenan tidak ingin menuntut penjelasan lebih lanjut. Semuanya
sudah cukup. Akhirnya Keenan bisa merasakan cinta itu, kasih sayang itu, dan
kebebasan yang akhirnya lahir dalam hubungan mereka berdua.
Sehari sebelum akhir pekan. Keenan sudah tuntas mengepak
barang-barangnya. Memastikan kembali tiket pesawat yang tersimpan di kantong
depan ranselnya.Tekadnya bulat sudah. Ia akan ke Bali, ke Ubud, kembali ke
Lodtunduh. Entah untuk berapa lama. Yang jelas, sesuatu yang baru akan berawal
di sana. Tak ada lagi yang bisa mengikatnya kembali ke sini. Keenan menoleh ke
belakang sebelum memasuki taksi. Ayahnya, ibunya, dan adiknya Jeroen, berdiri
melepas kepergiannya. Dan kali ini, mereka semua tersenyum. Mereka semua
mengikhlaskan. Tanpa kecuali.
Malam ini, Remi menyusun tempat-tempat yang ingin ia kunjungi dengan
Kugy esok hari. Ada pameran wedding, dan
beberapa venue yang kata
orang-orang bagus dan unik. Entah kapan rencana besar itu terwujud, ia masih
belum berani mendesak Kugy, tapi tak ada salahnya melihat-lihat dan
mempelajari. Dari SMS terakhir yang ia terima, Kugy bahkan sudah setuju dengan
rencananya besok. Remi tersenyum puas. Ia mengambil buku dongeng buatan Kugy.
Satu-satunya buku dongeng yang ia punya.Halaman demi halaman, Remi pun berdecak
kagum. Trenyuh. Ilustrasi yang indah. Cerita yang hidup. Dan betapa Kugy
membuat setiap jengkal dari buku itu dengan cinta. Remi bisa merasakannya.
Tibalah ia pada halaman terakhir. Sampul tebal yang tampak polos.
Namun, ada sesuatu yang kelihatan menyembul keluar. Selapis kertas putih yang
hanya terlihat ujungnya saja. Tanpa beban, Remi menarik kertas itu keluar.
Sebuah amplop. Mendadak, ada keraguan yang muncul dalam hatinya. Entah kenapa.
Remi merasa tidak yakin benda itu sengaja diletakkan di sana untuk ia temukan.
Namun, pada saat yang sama, ia juga merasa tergerak untuk membuka
amplop itu, mengambil kartu di dalamnya. Keningnya seketika mengerut. Sekali
lagi, Remi membalik amplop itu, mencari sebuah nama. Tidak ada. Perasaan Remi
semakin tidak enak. Ia tidak bisa lupa, Kugy pernah berkata, benda itu belum
berpindah tangan sebelumnya. Remi lalu membaca, baris demi baris tulisan Kugy
yang berjejer rapi seperti pasukan semut. ia tertumbuk pada satu tanggal. 31
Januari 2000. Tanggal itu. Tahun itu. Pembicaraan terakhirnya dengan Noni dari
satu nomor telepon seolah mengonfirmasi kecurigaannya sejak tadi. Dan ia yakin
kini. Semuanya mendadak jelas. Reaksi dramatis Kugy ketika melihat foto Luhde.
Kebimbangannya selama ini. Kepala Remi jatuh menunduk. Semua ini terlalu pahit
dan sakit. Namun, ia akhirnya bisa memahami sesuatu yang membayangi hubungan
mereka selama ini adalah Keenan.
Remi yang semula ingin mengajak Kugy ke wedding exhibition tiba-tiba membatalkan rencananya. Remi
membawa Kugy ke suatu tempat dan Kugy
tak akan lupa tempat itu. Ayunan itu. Malam pergantian tahun. Di sanalah
segalanya bermula. Kugy menanggalkan kedua sandalnya, membiarkan telapak
kakinya menyentuh pasir. Angin pantai yang hangat berembus meniup kulit,
mengibarkan rok panjang yang ia kenakan. Langit tampak digantungi tumpukan awan
mendung, sore ini sepertinya akan ditutup oleh hujan. Kugy berbalik badan. Remi
berjalan ke arahnya dengan senyum samar, tangan kanannya menjinjing satu
kantong kertas. Ada sesuatu yang ganjil dengan ini semua. Namun, ia tidak tahu
apa. Remi memberikan kantong kertas itu dan Kugy menerimanya dengan ragu. Sekilas, ia mengintip isinya.
Tercenganglah Kugy saat mengenali buku dongeng pemberiannya. Segala
sesuatu terasa berhenti bagi Kugy. Detik, detak, gerik dan gerak. Ia hanya bisa
menatap benda satu itu. Sesuatu yang hampir ia lupa, tapi ternyata tidak. Cukup
sedetik yang ia butuhkan untuk kembali mengenalinya. Mengingat apa yang ia
tulis, dan kepada siapa tulisan itu ditujukan. Kugy terkejut karena Remi telah
mengetahui perasaanya terhadap Keenan. Ia hampir tak bisa bernapas. Berusaha
menekan isaknya sekuat tenaga. Namun, ia tidak berhasil. Isak pelan kini
berhasil menembus kebisuan dan kebekuan. Remi lalu bangkit, sejenak mendekap
Kugy yang masih terisak, dan ia melangkah pergi. Kebekuan dan kebisuan runtuh
sudah.
Meski segalanya tampak mendung dan murung, sesuatu berhasil mencair
di antara mereka. Kejujuran. Dan seolah bergerak bersama-sama, langit pun mulai
merintikkan hujan. Apa yang lama tak terungkap akhirnya pecah, meretas, dan
Bumi melebur bersamanya.
Sudah dua malam Keenan tiba di rumah Pak Wayan. Dan baru sore inilah
Luhde kembali dari Kintamani. Luhde tampak terkejut melihat kehadiran Keenan
yang sudah menunggunya di bale.
Keenan sontak berdiri melihat Luhde. Wajahnya berseri. Tangannya merentang,
siap mendekap. Namun, Luhde hanya berdiri di tempatnya. Tersenyum dan
mengangguk sopan. Keenan memberitahu Luhde bahwa ia akan kemabli tinggal di
Bali dan menghabiskan waktu bersama Luhde setiap hari. Luhdepun tidak terlihat
bahagia akan hal itu.
Tiba-tiba sebuah pahatan kayu sebesar genggaman tangan ia selipkan
kembali ke genggaman sang pembuatnya. Pahatan berbentuk hati dengan relief
gelombang air. Sesuatu yang pernah ia begitu dambakan, sesuatu yang pernah ia
minta dan akhirnya diberikan. Namun, Luhde sadar kini, yang bisa ia miliki
hanyalah pahatan kayu berbentuk hati. Bukan hati yang sebenarnya. Sementara
yang sesungguhnya ia damba bukanlah pahatan itu, melainkan sesuatu yang tidak
pernah bisa ia miliki seutuhnya.
Keenan terdiam. Seiring angin yang bertiup serupa tiupan seruling,
mendadak benaknya terisap ke masa lalu. Kembali ke malam saat ia mendengar
angin berbunyi serupa, menggoyangkan kentungan bambu yang tergantung di tepi
atap bale. Malam di mana ia
membuat pilihan. Ucapan Luhde menyadarkannya. Ia hanya memilih untuk memberikan
seonggok kayu berukir, sementara apa yang mendorongnya untuk mengukir tak
pernah bisa ia berikan. Keenan mengatupkan matanya erat-erat. Semua ini terlalu
getir untuk ia telan. Namun, inilah kejujuran. Keenan berdiri termangu menatap
itu semua. Sebutir air matanya mengalir. Diusapnya pelan. Dan ia pun beranjak
dari sana.
Dari kejauhan, seseorang memandangi mereka berdua. Pak Wayan merasa
dirinya terpecah menjadi dua. Sebagian dirinya hancur bersama Luhde. Dan
sebagian lagi bahagia tak terhingga untuk Keenan. Akhirnya, Keenan mendapat
kesempatan yang tak pernah ia miliki dua puluh tahun yang lalu. Kesempatan
untuk dipilih cinta, dan berserah pada aliran yang membawanya. Ke mana pun itu.
Hati selalu tahu.
Keenan menyiapkan ranselnya. Ransel marun berinisial “K” yang ia
pakai sejak kuliah. Mendudukkannya di jok depan. Sementara ia duduk di belakang
kemudi. Sejenak Keenan menengadah melihat langit pagi yang cerah.
Tak ada lagi yang mengikatnya
di mana pun. Tidak di sini. Tidak di Bali. Untuk pertama kalinya, Keenan
mencicipi penuh arti kebebasan. Dan hari ini, ia memutuskan untuk pergi bersama
angin. Bebas, seolah tanpa tujuan. Namun, angin selalu bergerak ke satu tempat.
Hari
sudah sore saat ia tiba ke tempat ini. Kembali untuk yang ketiga kalinya. Tak
ada lagi tempat yang lebih tepat untuk ia kunjungi. Keenan langsung memarkirkan
mobilnya di tebing, bersiap menyambut gua kelelawar di bawah sana memuntahkan
isi perutnya sejenak lagi.
Deburan
ombak yang berderu dan bertempur di bawah sana menggetarkan sekaligus
mendamaikan. Keenan telentang menghadap angkasa hingga warnanya mulai berubah
jingga. Rasanya, ia bisa di sana selamanya. Tempat ini begitu sepi. Hanya alam
dan dirinya yang berbaring hingga entah kapan. Keenan tak lagi berencana.
Tiba-tiba
saja, pandangannya menggelap. Sebuah ransel jatuh tepat di samping kepalanya.
Mata Keenan memicing. Mencoba mengenali sosok yang berdiri di atasnya. Pandangannya
kembali tak terhalang. Orang itu kini ikut berbaring di sebelahnya. Kugy. Dan
sepanjang ingatan Keenan, langit tak pernah seindah itu.
Hari ini, di tengah laut biru yang beriak tenang, segugus tangan mungil
meluncur keluar dari bibir kapal nelayan. Ia sengaja ikut menumpang demi
menghanyutkan perahu kertasnya. Tidak dari empang. Tidak dari kali. Tidak dari
sungai kecil. Kali ini ia ingin melepaskannya di tengah laut. Suratnya terakhir
untuk Neptunus.



0 komentar:
Posting Komentar