Disney Minnie Mouse Glitter

Sabtu, 01 Desember 2012

Asal Mula Karakter Mickey Dan Minnie Mouse

0



Pada tahun 1928, Walter Elias Disney menciptakan Mickey Mouse untuk bertindak sebagai pengganti bintang sebelumnya Oswald si Kelinci Beruntung. Namun demikian, Miki tidak dapat menyaingi tokoh kartun pendahulunya seorang diri. Salah satu daya tarik tokoh Oswald sebelum pindah ke Universal Studios adalah perilakunya yang terus menerus mencari kekasih. Jadi, untuk menyaingi pendahulunya dalam hal menggoda, seorang tokoh harus menggantikan kekasih-kekasih Oswald. Setelah menciptakan beberapa karakter, akhirnya terciptalah Mini Tikus sebagai pendamping Miki Tikus.


Bersama Miki Tikus, Mini Tikus muncul untuk pertama kalinya dalam Plane Crazy, pertama kali diluncurkan pada tanggal 15 Mei 1928. Mini diundang untuk mengikuti Miki dalam penerbangan pertama pesawatnya. Mini menerima undangan itu namun ia tak menerima tawaran ciuman di tengah penerbangan, hingga Mini terjun bebas dengan parasut dari pesawat itu. Pada film pertama mereka ini, Mini digambarkan sebagai seseorang yang menolak perhatian Miki dan melarikan diri darinya.

Rabu, 14 November 2012

Lirik Lagu Perahu Kertas

0

Perahu kertasku kan melaju
membawa surat cinta bagimu
Kata-kata yang sedikit gila,
tapi ini adanya

Perahu kertas mengingatkanku
betapa ajaibnya hidup ini
Mencari-cari tambatan hati,
kau sahabatku sendiri
Hidupkan lagi mimpi-mimpi
cinta-cinta... cita-cita ...
cinta-cinta...
yang lama ku pendam sendiri
berdua ku bisa percaya

Ku bahagia kau telah terlahir di dunia
Dan kau ada di antara milyaran manusia
Dan ku bisa dengan radarku menemukanmu
Tiada lagi yang mampu berdiri
halangi rasaku, cintaku padamu

Ku bahagia kau telah terlahir di dunia
Dan kau ada di antara milyaran manusia
Dan ku bisa dengan radarku menemukanmu

Oh bahagia kau telah terlahir di dunia
Dan kau ada di antara milyaran manusia
Dan ku bisa dengan radarku menemukanmu..
download[4]

Senin, 12 November 2012

Perahu Kertas Quotes

0

“aku gak mau sepuluh, dua puluh tahun dari hari ini, aku masih terus-terusan memikirkan orang yg sama. bingung di antara penyesalan dan penerimaan.”

“Karena hati tak perlu memilih, ia selalu tahu kemana harus berlabuh”  

“hati kamu mungkin memilihku, seperti juga hatiku selalu memilihmu. Tapi hati bisa bertumbuh dan bertahan dengan pilihan lain. Kadang, begitu saja sudah cukup. Sekarang aku pun merasa cukup.” 

“Carilah orang yang nggak perlu meminta apa-apa, tapi kamu mau memberikan segala-segalanya.” 

“Kenangan itu hanya hantu di sudut pikir, selama kita diam selamanya dia tetap jadi hantu, ga akan pernah jadi kenyataan” 

“Kadang-kadang langit bisa kelihatan seperti lembar kosong. Padahal sebenarnya tidak. Bintang kamu tetap di sana. Bumi hanya sedang berputar.”

“Keheningan seakan memiliki jantung. Denyutnya terasa satu-satu, membawa apa yang tak terucap. Sejenak berayun di udara, lalu bagaikan gelombang air bisikan itu mengalir, sampai akhirnya berlabuh di hati.” 

“Gy, jalan kita mungkin berputar, tetapi satu saat, entah kapan, kita pasti punya kesempatan jadi diri kita sendiri. Satu saat kamu akan jadi penulis dongeng yang hebat. Saya yakin”

“Kamu hebat,” decaknya, “itu memang keajaiban. Saya bisa merasakan, anak-anak tadi nyaman banget dengan diri mereka sendiri. Kamu berhasil memancing karakter mereka keluar. Mereka jadi percaya diri, punya harga diri. Punya kebanggaan” 

“Akan ada satu saat kamu bertanya: pergi ke mana inspirasiku? Tiba-tiba kamu merasa ditinggal pergi. Hanya bisa diam, tidak lagi berkarya. Kering. Tetapi tidak selalu itu berarti kamu harus mencari objek atau sumber inspirasi baru. Sama seperti jodoh, Nan. Kalau punya masalah,tidak berarti harus cari pacar baru kan? Tapi rasa cinta kamu yang harus diperbarui.Cinta bisa tumbuh sendiri,tetapi bukan jaminan bakal langgeng selamanya,apalagi kalau tidak dipelihara. Mengerti kamu?" 


Sinopsis Perahu Kertas

0

Kisah ini dimulai dengan Keenan, seorang remaja pria yang baru lulus SMA, yang selama enam tahun tinggal di Amsterdam bersama neneknya. Keenan memiliki bakat melukis yang sangat kuat dari ibunya dan ia tidak punya cita-cita lain selain menjadi pelukis, tapi perjanjiannya dengan ayahnya memaksa ia meninggalkan Amsterdam dan kembali ke Indonesia. Keenan diterima berkuliah di Fakultas Ekonomi Bandung dan meraih nilai IP tertinggi selama 2 semester berturut-turut. Keenan pun harus menjadi bukan dirinya sendiri untuk mengikuti kehendak ayahnya.
Sementara, di sisi lain, ada Kugy, seorang cewek unik yang hobi berkhayal dan cenderung banyak kejutan di dalam kehidupannya. Kugy sangat menggilai dongeng. Tak hanya mengkoleksi buku-buku dongeng dan punya taman bacaan, Kugy juga sangat senang menulis dongeng. Walaupun Kugy yakin menjadi seorang juru dongeng bukanlah profesi yang meyakinkan yang akan diterima dengan mudah oleh khalayak umum. Akan tetapi, Kugy tak ingin lepas begitu saja dari dunia tulis menulis. Tak beda dengan Keenan, Kugy pun mempunyai cita-citanya sendiri, yaitu menjadi juru dongeng. Kugy juga mempunyai hobi menulis surat kepada Dewa Neptunus. Surat tersebut dilipat menjadi perahu kertas dan dihanyutkan di sungai atau laut. Kugy menganggap dirinya adalah seorang agen Neptunus.  Kugy lantas meneruskan pendidikannya di Fakultas Sastra dan di universitas yang sama dengan Keenan.
Kugy dan Keenan dipertemukan lewat pasangan Eko dan Noni. Eko adalah sepupu Keenan. Sementara Noni adalah sahabat Kugy sejak mereka berdua masih kecil. Pertemuan mereka berawal disaat Noni yang harus nemani sang pacar untuk menjemput sepupunya yang sudah lama tidak bertemu. Dan pertemuan mereka tidak sampai disitu saja, berlanjut dengan hobi mereka yang keren, nonton bioskop midnight, sehingga seperti double date, antara Noni - Eko dan Kugy-Keenan.
Setelah hubungan mereka menjadi semakin dekat, ternyata Kugy dan Keenan diam-diam saling mengagumi dan tanpa mereka sadari mereka saling jatuh cinta, tanpa pernah ada kesempatan untuk saling mengungkapkan, dikarenakan situasi yang tidak memungkinkan.  Kugy yang sudah hampir dua tahun berpacaran dengan cowok bernama Joshua yang biasa dipanggilnya Ojos. Bagi Kugy, ungkapan opposite attract adalah yang paling sempurna untuk menggambarkan dinamikanya dengan Ojos. Keduanya bertolak belakang hampir dalam segala hal. Ojos yang necis dan jago basket adalah pujaan banyak cewek di sekolah karena kegantengannya, dan dijuluki Prince Charming. Di sisi yang berbeda, Kugy pun termasuk sosok populer di sekolah karena aktivitas dan pergaulannya yang luas. Tapi Kugy berasal dari kutub yang berbeda. Kugy dikenal dengan julukan Mother Alien. Ia dianggap duta besar dari semua makhluk aneh di sekolah.
Konflik mulai muncul disaat Noni yang berencana untuk mencomblangkan Keenan dengan Wanda, seorang kurator muda yg merupakan sepupunya. Pencomblangan ini membuat hubungan antara Keenan dan Kugy menjadi semakin jauh. Persahabatan empat sekawan itu mulai merenggang sejak adanya Wanda. Kugy pun berencana untuk menjauh dari semua yang terjadi, dan juga ingin menjauh dari seorang yang bernama Keenan, tetapi akhirnya Kugy mengerti bahwa dia sebenarnya sudah mulai menyukai Keenan. Kugy lantas menjalani kegiatannya yang baru dan sibuk dengan kegiatan itu, yakni menjadi guru relawan di sekolah darurat bernama Sakola Alit. Di sanalah Kugy bertemu dengan Pilik, murid laki-laki yang tertua dikelasnya. Pilik dan kawan-kawannya berhasil ditaklukan oleh Kugy dengan cara, membuatkan mereka kisah petualangan dengan mereka sebagai tokohnya, yang diberi judul: Jendral Pilik dan Pasukan Alit.  Kugy menuliskan kisah petualangan murid-muridnya itu di sebuah buku tulis, yang kelak diberikan kepada Keenan.
Pada saat pesta ulang tahun Noni yang berlangsung di halaman rumah Wanda, Kugy tidak dapat hadir dikarenakan tidak sanggup jika harus melihat kedekatan Keenan dan Wanda disana. Noni pun kecewa dan itu semua membuat hubungannya dan Noni merenggang. Disaat yang sama hubungan Keenan dan Wanda yang semula mulus, akhirnya hancur dalam semalam. Begitu juga dengan impian Keenan yang selama ini ia bangun dan perjuangkan kandas dengan cara yang mengejutkan bersamaan dengan hancurnya hubungannya dengan Wanda. Wanda yang semula ia kira tulus membantunya ternyata hanya berusaha untuk mendekati dan mencari perhatiannya. Keenan merasa kebohongan ini terlalu gigantis untuk ia cerna, ia sudah merasakan kehancuran yang terjadi didalam dirinya setelah ia mengambil sebuah keputusan yang sangat berani untuk berhenti kuliah, berkomitmen mandiri secara ekonomi, dan total hidup dengan melukis sehingga ia terusir dari keluarganya sendiri. Keenan pun memilih meninggalkan kehidupannya di Bandung dan keluarganya di Jakarta, lalu pergi ke Ubud dan tinggal bersama Pak Wayan yang merupakan sahabat ibunya.
Masa-masa bersama keluarga Pak Wayan, yang semuanya merupakan seniman-seniman sohor di Bali, pelan-pelan mulai mengobati luka hati Keenan. Sosok yang paling berpengaruh dalam penyembuhannya adalah Luhde Laksmi, keponakan Pak Wayan. Keenan mulai bisa melukis lagi. Berbekalkan kisah-kisah Jenderal Pilik dan Pasukan Alit yang diberikan Kugy padanya, Keenan menciptakan lukisan serial yang menjadi terkenal dan diburu para kolektor.
Kugy, yang kesepian dan kehilangan sahabat-sahabatnya di Bandung, mulai menata ulang hidupnya. Ia  berencana lulus kuliah secepat mungkin dan langsung bekerja. Ia pun menyelesaikan kuliahnya dalam waktu 4 tahun dan mendapatkan nilai A plus. Setelah lulus kuliah, Kugy  di bantu oleh Karel yang merupakan abangnya untuk mencari pekerjaan. Iapun berencana magang di sebuah biro iklan di Jakarta sebagai copy writer. Di sana, ia bertemu dengan Remigius Aditya, atasan yang sekaligus sahabat abangnya. Dengan cara yang tak terduga karier Kugy naik daun dari seorang copywriter menjadi project leader orang di kantor itu karena karena dianggap prodigy atas ide-idenya yang gila.
Namun sosok Remigius tidak melihat Kugy dari sisi itu. Remi menyukai Kugy tidak hanya dari ide-idenya, tapi juga semangat dan sisi keunikan Kugy. Dan akhirnya Remi pun harus mengakui bahwa ia jatuh hati kepada Kugy. Sebaliknya, ketulusan Remi meluluhkan hati Kugy dan membuatnya memilih Remi. Sementara disis lain, karena kondisi ayahnya yang memburuk, Keenan terpaksa kembali ke Jakarta dan meninggal Bali serta Luhde untuk menggantikan ayahnya menjalankan perusahaan keluarga.
Setelah membaca Sebuah scrapbook tanpa judul yang di temukan Ellen tertinggal di bekas kamar kos Kugy, Noni pun mengenali cerita-cerita yang ditulis di sana. Kumpulan cerita yang dibuat Kugy bertahun-tahun tanpa pernah ia publikasikan, hanya dipamerkannya ke beberapa orang, termasuk dirinya. Di halaman pertama, terlekatlah fotokopi tulisan tangan Kugy sewaktu kecil. Noni pun hafal tulisan itu. Kugy sering menuliskannya di buku-buku dongeng koleksinya, terutama pada buku-buku yang ia anggap spesial. Sebuah kutipan dari W.B Yeats. Di sampul paling belakang, terdapat selipan yang bisa dipakai untuk menyimpan sesuatu. Noni tidak akan mengeceknya jika saja ujung kertas putih yang diselisipkan di sana tidak menyembul keluar. Diambilnya kertas itu. Sebuah amplop putih, berisi sehelai kartu. Selama tiga tahun lamanya Noni baru mengetahui mengapa dulu Kugy selalu menghindar, mengapa Kugy tidak datang ke pestanya, mengapa Kugy akhirnya memilih pisah dengan Ojos, mengapa Kugy seperti orang tertekan. Itu semua karna Kugy memendam perasaan terhadap Keenan. Noni pun ke Jakarta untuk menemui Kugy dan meminta maaf serta mempersiapkan pesta pertunangannya bersama Eko.
Pada acara pertunangan Noni dan Eko, pertemuan Kugy dan Keenan pun tidak terelakkan. Bahkan empat sekawan ini bertemu lagi dan bercanda seperti waktu mereka kuliah dulu. Tapi semuanya kini dengan kondisi yang berbeda. Suatu hari Keenan mengajak Kugy untuk pergi mengunjungi Sakola Alit dan menemui Pilik di Bandung. Betapa terkejutnya mereka setelah melihat Sakola Alit dan pemukiman tempat Pilik tinggal telah digusur. Mereka pun harus menerima kenyataan bahwa Pilik sudah meninggal akibat menderita tifus tiga bulan yang lalu tanpa mampu mencari pertolongan medis.
Setelah menghabiskan waktu seharian, Keenan dan Kugy pun berencana membuat karya bersama. Kugy membuat cerita serial Jendral Pilik Dan Pasukan Alit sementara Keenan yang membuat ilustrasinya. Setiap malam minggu Keenan pun kerumah Kugy untuk mengambil naskah cerita tersebut.
Disisi lain, Luhde yang sudah rindu kepada Keenan membulatkan tekatnya untuk menyusul Keenan ke Jakarta. Bermodalkan tabungan yang seadanya, Luhde berangkat naik bus ke Jakarta. Karena pak Wayan sedang pergi ke Lombok selama seminggu, dan itulah kesempatannya untuk melaksanakan perjalanan nekat ini.. Sesampainya di Jakarta, Luhde pun langsung menuju rumah Keenan, Keenan seperti melihat hantu ketika mendapatkan Luhde berdiri di teras depan rumahnya, berdiri santun menyambut kedatangannya.
Setelah menghabiskan waktu selama seminggu di Jakarta, Keenan pun mengantar Luhde kembali ke Ubud. Disaat yang sama Kugy,Remi serta karyawan kantor berangkat ke Bali untuk mengikuti acara outing. Sesampainya di Bali, Remi yang ternyata adalah pembeli pertama lukisan Keenan mengajak Kugy ke Ubud untuk mampir ke galeri Pak Wayan. Diperjalanan menuju rumah Pak Wayan, sebuah pura yang kecil dan sepi, terletak persis di tepi jalan. Tidak ada yang istimewa jika diamati sekilas pintas. Namun, Kugy merasa harus berhenti di sana, membiarkan Remi pergi ke galeri langganannya sendirian. Di pura itu Kugy bertemu dengan Luhde, merekapun saling berkenalan, mereka terlihat sangat akrab.Ternyata Luhde memiliki hobi yang sama yaitu membuat cerita, Kugy pun mengeluarkan selembar kertas lalus menuliskan e-mail serta alamat lengkapnya kepada Luhde agar mereka bisa bertukar cerita.
Tiba-tiba tampak sebuah mobil berhenti di seberang jalan. Suara klakson berbunyi pendek satu kali. Kugy segera bangkit berdiri,  dan berpamitan pada Luhde karna Remi telah menjemputnya.
Begitu melihat tulisan tangan tadi, Luhde langsung tahu siapa yang ia hadapi. Tak mungkin salah lagi. Bagaimana bisa ia tidak hafal tulisan tangan itu, bertahun-tahun ia membacanya, meresapi berlembar-lembar cerita yang dituliskan oleh tangan yang sama dalam sebuah buku tulis usang. Bagaimana bisa ia tidak hafal. Keenan selalu membawa buku itu ke mana-mana, menjadikannya bintang inspirasi selama karier melukisnya yang cemerlang di Ubud. Keenan melukis dengan penuh cinta, dengan hati dan nyawa. Luhde bersyukur karena kini ia tahu apa yang menjadi alasan Keenan bisa menjangkarkan hatinya begitu dalam. Dan, meski dengan susah payah, Luhde berusaha mensyukuri kepedihan yang menyayat hatinya sekarang.
Hari terakhirnya di Ubud. Sore nanti, Keenan sudah harus terbang kembali ke Jakarta. Begitu selesai berkemas, ia keliling-keliling mencari Luhde. Di mana-mana Luhde tidak kelihatan. Keenan bisa merasakan, Luhde menghindarinya sejak kemarin. Ia kelihatan lebih pendiam, seperti memendam sesuatu. Setelah mencari ke sana kemari, Keenan menemukannya mengurung diri di kamar..Keenan tetap tidak mengerti apa yang membuat Luhde begitu galau. Keenan pun berpamitan pada Luhde dan berjanji akan kembali lagi ke Ubud.
Minggu Malam. Saatnya Keenan menjemput naskah Jenderal Pilik yang sempat tertunda karena acara outing di kantor Kugy. Tapi tak hanya itu, Keenan sekaligus mengajak Kugy untuk makan malam di sebuah restoran Jepang untuk memberitahu bahwa proyek karya bersama mereka sudah punya penerbit yaitu Pak Ginanjarsalah satu pencinta lukisan Keenan yang punya penerbitan.
Pada hari minggu, Remi pergi ke sebuah hotel untuk meeting di coffe shop yang ada disana. Namun, perjalanannya menuju hotel ini sempat terhambat karena ada keramaian lalu lintas tak terduga akibat parkiran mobil yang berbondong-bondong ke pameran besar dekat sana. Sesampainya disana Remi segera menuju coffe shop. Setelah  pintu lift membuka. Remi bergegas melangkah keluar. Bertubrukan dengan seseorang yang mau masuk ke lift. Merekapun nyaris berbarengan mengucap maaf.  Remi yang sedari tadi menunduk, sontak mendongak mendengar namanya dipanggil. ia pun kaget mengenali pria di hadapannya adalah Keenan. Merekapun saling bercakap-caka, Remi pun memberi nomor HPnya kepada Keenan dan merekapun berpisah. Tak berapa lama Lift itu lalu kembali menutup. Di dalamnya, Keenan geleng-geleng kepala. Takjub sendiri. Sekian lama berusaha menutupi jejak, malam ini ia harus bertemu dengan Remi dengan cara yang sama sekali tidak diduga. Barangkali memang sudah waktunya, pikir Keenan. Sementara itu, dalam perjalanannya menuju coffee shop, pikiran Remi masih terpaku pada pertemuannya dengan Keenan tadi. Masih sulit memercayai apa yang terjadi. Hidup dengan tak tertebaknya mengantarkan Keenan begitu saja di depan mukanya pada suatu malam, padahal sekian lama sudah ia mencari Keenan dengan segala macam cara. Tidak ada yang kebetulan, pikir Remi, terlepas dari kesanggupan dirinya memahami makna besar di balik pertemuan itu.
Sore hari, Remi pun menelpon Keenan dan mengajaknya ketemuan. Merekapun bertemu di kantor Keenan dan mulai berbagi cerita tentang diri mereka masing-masing. Remi pun bercerita bahwa ia berencana untuk melamar pacarnya, Keenanpun sangat antusias mendukung Remi dan tanpa ia ketahui bahwa pacar yang dimaksud Remi adalah Kugy.
Luhde menyandarkan kepalanya di dinding, memandangi pamannya yang duduk memunggunginya. Sudah beberapa hari ini, Luhde malah tidak bisa tidur. Hatinya resah. Nyaris tidak pernah tenang. Ia pun berkata bahwa ia tak ingin menjadi seperti pamannya ataupun Lena ibunya Keenan yang sepuluh sampai dua puluh tahun dari hari ini saya masih terus-terusan memikirkan orang yang sama dan bingung di antara penyesalan dan penerimaan.
Semenjak pamannya berpisah dengan Lena, pria itu tidak pernah jatuh cinta lagi. Ia memilih hidup sendiri dan tidak menikah dengan perempuan mana pun. Baginya, Lena adalah yang terakhir dan tak tergantikan. Lebih baik hidup sendiri daripada hidup dalam kebohongan, begitu kata pamannya selalu. Pak Wayan harus rela berpisah dengan Lena karena Lena tidak mungkin mengorbankan Keenan dalam perutnya bukan karena Adri.
Pada malam minggu, seperti biasanya Remi pergi kerumah Kugy. Kugy keluar rumah dengan membawa hasil foto-fotonya selama di Bali. Remipun mengenali perempuan dalam foto Kugy itu adalah Luhde keponakannya Pak Wayan. Remi juga bercerita bahwa Luhde adalah kekasih dari pelukis favoritnya yaitu Keenan. Kugy ingat perasaan ini. Sama seperti ketika ia tahu soal Wanda dulu. Bedanya, kali ini ia begitu menyukai Luhde. Bahkan, jatuh sayang. Dan meski selama ini ia yakin bahwa hatinya sudah berubah, lagi-lagi ia harus menyadari dengan cara yang getir, bahwa hatinya belum berubah.
Keenan muncul di ruang tamu rumah Kugy lebih awal. Hari ini ia janji membawa Kugy untuk menemui Pak Ginanjar, yang juga sama-sama sudah tidak sabar ingin bertemu Kugy. Jika semuanya berjalan sesuai rencana, dalam minggu ini mereka bahkan sudah bisa menandatangani kontrak kerja sama untuk penerbitan dongeng serial Jenderal Pilik dan Pasukan Alit. Keenanpun mengajak Kugy untuk makan es krim sebelum menemui Pak Ginanjar. Sepanjang jalan, Kugy lebih banyak diam. Hanya Keenan yang aktif melempar berbagai topik obrolan, dan ia hanya menanggapi sekenanya. Sesampainya di parkiran restoran es krim favorit mereka di Kemang, beban di hatinya terasa kian menyesak. Ketika mereka melangkah keluar mobil, Kugy juga merasa langkah kakinya bertambah berat. Mereka berdua lantas memasuki restoran, duduk di tepi jendela. Gerimis kecil turun di luar sana. Kugy membuang pandangannya ke jendela, mengamati hujan. Kugy pun meminta untuk istirahat untuk menulis cerita selama sebulan lalu ia pulang dengan menggunakan taksi.
Sesampainya didepan rumah, Kugypun terkejut melihat Remi sudah menunggunya. Tiba-tiba Remi menunduk, mengambil tangan kiri Kugy. Meraih jari manisnya dan melingkarkan sebuah cincin bermatakan berlian rose cut. Remi berkata bahwa ia ingin Kugy menjadi pendamping hidupnya.Dada Kugy menyesak. Napasnya mulai satu-satu. Setiap kata yang diucapkan Remi seperti balok beton yang mengimpit dadanya. Dan cincin berkilau yang tersemat di jarinya itu bagaikan hantaman godam yang menjadi gong dari rangkaian balok beton yang menghunjaminya. Kugy memejamkan mata. Semua yang ia alami dan ia dengar hari ini berada di luar kesiapannya, kekuatannya. Bibirnya mengunci. Remipun tahu bahwa gelagat Kugy berubah. Iapun pulang dan memberi waktu untuk Kugy memberi jawabannya.
Kugy berencana untuk menyendiri dan tinggal dirumah Karel. Setiap hari hanya dihabiskannya untuk melamun di sebuah balkon kecil di bagian belakang rumah, tempat menjemur pakaian. Sudah tiga hari sejak kejadian di restoran es krim itu. Kugy masih belum bisa dihubungi. Keenan tidak tahu lagi siapa yang bisa ia mintai keterangan. Noni adalah upaya terakhirnya. Nonipun  tidak mengetahui dimana keberadaan Kugy.
Noni sudah sampai duluan di restoran es krim di bilangan Kemang, tempat ia janjian dengan Keenan untuk membahas Kugy yang masih belum ditemukan. Tak sampai lima menit menunggu, mobil SUV Keenan memasuki parkiran. Tampak Keenan keluar dari mobil, masih memakai setelan kantor. Keenan memaksa Noni untuk menceritakan penyebab peselisihannya dan Kugy tiga tahun yang lalu, karena ia mengira hilangnya Kugy kali ini ada hubungannya dengan semua itu.
Karena di paksa, Nonipun menceritakannya. Lalu Keenanpun terkejut saat Noni mengatakan bahwa Kugy mencintainya. Noni menyuruh Keenan untuk menelpon pacar Kugy untuk menanyakan keadaan Kugy. Keenanpun memencet nomor yang Noni sebutkan. Jempolnya lalu menekan tombol call. Betapa terkejutnya Keenan saat mengetahui bahwa nomor tersebut adalah nomor Remigius Aditya yang tersimpan di kontak Hpnya.
Keenan berpikir bahwa Kugy ada dirumah Karel. Iapun lalu mencari tahu alamat Karel. Sudah hampir gelap ketika Keenan sampai di rumah itu. Karel sendiri yang membukakan pintu. Ia tampak terkejut melihat kedatangan Keenan. Keenanpun bertanya tentang keberadaan Kugy dan Karelpun menyuruhnya menemui Kugy yang sedang berada dibalkon.Kugypun terkejut mendengar Keenan memanggilnya.
Keenan tiba-tiba menghampiri Kugy dan berkata bahwa ia mencintai Kugy dari pertama mereka bertemu dan sampai kapanpun. Iapun menagtakan bahwa ia sudah tahu tentang Remi dan ia merelakan Kugy Cuma untuk Remi. Kugypun berkata bahwa ia tak sengaja bertemu Luhde di Ubud dan menyuruh Keenan untuk tidak melepaskan Luhde. Kali ini, Keenan akhirnya mengerti. Sikap Luhde yang berubah drastis setelah pulang dari pura. Sikap Kugy yang juga berubah setelah kembali dari Bali. Akhirnya ia memahami. Tiba-tiba Kugy menyuruh Keenan untuk pergi, Keenan mengangguk. Memang tak ada lagi yang perlu dibicarakan. Hanya akan membuat hatinya makin terluka. Kugy menyadari bahwa persahabatan barangkali adalah muara terakhir yang harus ia paksakan untuk menampung seluruh perasaannya pada Keenan.
Di tempat yang sama, Kugy menangis bisu. Ia berjanji, inilah tangisan terakhirnya untuk Keenan, sekaligus tangisan yang paling menyakitkan. Ia bahagia sekaligus patah hati pada saat yang bersamaan. Saat ia tahu dan diyakinkan bahwa mereka saling mencintai, dan selamanya pula mereka tidak mungkin bersama.
Keesokan harinya, Kugy memutuskan keluar dari tempat persembunyiannya. Berhenti menjadi parasit di rumah Karel. Kembali pulang ke rumah. Dan orang paling pertama yang ia hubungi adalah Remi. Hanya dibutuhkan satu telepon untuk mendaratkan Remi ke rumahnya. Pria itu tak menunggu lebih lama lagi. Begitu Kugy menghubunginya, Remi langsung berangkat malam itu juga menemui Kugy. Kugy lalu menyerahkan buku dongeng yang tak pernah berpindah tangan dan dulu ingin ia berikan pada Keenan untuk Remi sebagai tanda bahwa ia menerima lamaran Remi.
Enam bulan sudah semenjak kedatangannya kembali ke Jakarta. Ayahnya telah berubah drastis. Manusia itu telah menjadi bukti hidup bahwa mukjizat itu ada. Seseorang yang terkapar lumpuh sama sekali, dengan prediksi kerusakan fatal di sana sini, berhasil sembuh dan berfungsi seperti sedia kala. Ia telah lama meninggalkan kursi roda dan alat bantu apa pun. Setiap pagi, ia bahkan sudah melakukan aktivitas senam ringan, sesuatu yang dilakukannya setiap hari saat ia masih sehat dulu.
Segala sesuatunya memang sudah hampir seperti dulu, kecuali satu. Kembali ke kantor. Itulah satu-satunya hal yang masih belum disarankan dokter. Semua orang tahu, Keenanlah penyebab sekaligus penawar yang kemudian mendatangkan keajaiban tersebut. Tak hanya mendampingi ayahnya kapan pun ia bisa, Keenan bahkan menggantikan fungsi operasional ayahnya setiap hari di kantor. Memastikan perekonomian keluarga mereka masih bisa berjalan seperti biasa.
Namun, Keenan pun tahu, saat ini pasti tiba. Keajaiban yang satu hari harus berhadapan dengan kejujuran. Dan tak ada yang tahu pasti, mana yang akan keluar sebagai pemenang. Hati-hati, Keenan membuka pintu kamar orangtuanya. Tampak ayahnya sedang duduk sendirian di tempat tidur, membaca buku. Keenanpun berkata pada ayahnya bahwa ia ingin berhenti bekerja di kantor dan meneruskan hobinya untuk melukis. Adri tak tahu dari mana harus menjelaskan. Cerita yang sudah berkarat tapi menghantuinya selama puluhan tahun. Dunia lukisan adalah penghubung Lena dengan cinta lama yang seperti tak mengenal kata mati. Dunia lukisan kembali menjadi penghubung anaknya dengan seseorang yang selalu ingin ia hindari entah karena perasaan bersalah, atau justru karena perasaan tersaingi. Dan semua itu pernah begitu membutakannya hingga ia ingin membunuh potensi Keenan dengan cara apa pun. Namun, Adri tidak punya kesanggupan untuk menceritakannya. Tapi tanpa pernah Keenan bayangkan pada hari itu ayahnya mengizinkannya untuk melukis. Tubuh Keenan pun bergerak maju, lengannya membuka, merengkuh ayahnya. Untuk pertama kalinya dalam belasan tahun, ia merasa dipahami. Dan memahami. Bahwa apa yang tak terucap terkadang tak lagi penting. Keenan tidak ingin menuntut penjelasan lebih lanjut. Semuanya sudah cukup. Akhirnya Keenan bisa merasakan cinta itu, kasih sayang itu, dan kebebasan yang akhirnya lahir dalam hubungan mereka berdua.
Sehari sebelum akhir pekan. Keenan sudah tuntas mengepak barang-barangnya. Memastikan kembali tiket pesawat yang tersimpan di kantong depan ranselnya.Tekadnya bulat sudah. Ia akan ke Bali, ke Ubud, kembali ke Lodtunduh. Entah untuk berapa lama. Yang jelas, sesuatu yang baru akan berawal di sana. Tak ada lagi yang bisa mengikatnya kembali ke sini. Keenan menoleh ke belakang sebelum memasuki taksi. Ayahnya, ibunya, dan adiknya Jeroen, berdiri melepas kepergiannya. Dan kali ini, mereka semua tersenyum. Mereka semua mengikhlaskan. Tanpa kecuali.
Malam ini, Remi menyusun tempat-tempat yang ingin ia kunjungi dengan Kugy esok hari. Ada pameran wedding, dan beberapa venue yang kata orang-orang bagus dan unik. Entah kapan rencana besar itu terwujud, ia masih belum berani mendesak Kugy, tapi tak ada salahnya melihat-lihat dan mempelajari. Dari SMS terakhir yang ia terima, Kugy bahkan sudah setuju dengan rencananya besok. Remi tersenyum puas. Ia mengambil buku dongeng buatan Kugy. Satu-satunya buku dongeng yang ia punya.Halaman demi halaman, Remi pun berdecak kagum. Trenyuh. Ilustrasi yang indah. Cerita yang hidup. Dan betapa Kugy membuat setiap jengkal dari buku itu dengan cinta. Remi bisa merasakannya.
Tibalah ia pada halaman terakhir. Sampul tebal yang tampak polos. Namun, ada sesuatu yang kelihatan menyembul keluar. Selapis kertas putih yang hanya terlihat ujungnya saja. Tanpa beban, Remi menarik kertas itu keluar. Sebuah amplop. Mendadak, ada keraguan yang muncul dalam hatinya. Entah kenapa. Remi merasa tidak yakin benda itu sengaja diletakkan di sana untuk ia temukan.
Namun, pada saat yang sama, ia juga merasa tergerak untuk membuka amplop itu, mengambil kartu di dalamnya. Keningnya seketika mengerut. Sekali lagi, Remi membalik amplop itu, mencari sebuah nama. Tidak ada. Perasaan Remi semakin tidak enak. Ia tidak bisa lupa, Kugy pernah berkata, benda itu belum berpindah tangan sebelumnya. Remi lalu membaca, baris demi baris tulisan Kugy yang berjejer rapi seperti pasukan semut. ia tertumbuk pada satu tanggal. 31 Januari 2000. Tanggal itu. Tahun itu. Pembicaraan terakhirnya dengan Noni dari satu nomor telepon seolah mengonfirmasi kecurigaannya sejak tadi. Dan ia yakin kini. Semuanya mendadak jelas. Reaksi dramatis Kugy ketika melihat foto Luhde. Kebimbangannya selama ini. Kepala Remi jatuh menunduk. Semua ini terlalu pahit dan sakit. Namun, ia akhirnya bisa memahami sesuatu yang membayangi hubungan mereka selama ini adalah Keenan.
Remi yang semula ingin mengajak Kugy ke wedding exhibition tiba-tiba membatalkan rencananya. Remi membawa Kugy ke suatu tempat dan Kugy  tak akan lupa tempat itu. Ayunan itu. Malam pergantian tahun. Di sanalah segalanya bermula. Kugy menanggalkan kedua sandalnya, membiarkan telapak kakinya menyentuh pasir. Angin pantai yang hangat berembus meniup kulit, mengibarkan rok panjang yang ia kenakan. Langit tampak digantungi tumpukan awan mendung, sore ini sepertinya akan ditutup oleh hujan. Kugy berbalik badan. Remi berjalan ke arahnya dengan senyum samar, tangan kanannya menjinjing satu kantong kertas. Ada sesuatu yang ganjil dengan ini semua. Namun, ia tidak tahu apa. Remi memberikan kantong kertas itu dan Kugy menerimanya dengan ragu. Sekilas, ia mengintip isinya.
Tercenganglah Kugy saat mengenali buku dongeng pemberiannya. Segala sesuatu terasa berhenti bagi Kugy. Detik, detak, gerik dan gerak. Ia hanya bisa menatap benda satu itu. Sesuatu yang hampir ia lupa, tapi ternyata tidak. Cukup sedetik yang ia butuhkan untuk kembali mengenalinya. Mengingat apa yang ia tulis, dan kepada siapa tulisan itu ditujukan. Kugy terkejut karena Remi telah mengetahui perasaanya terhadap Keenan. Ia hampir tak bisa bernapas. Berusaha menekan isaknya sekuat tenaga. Namun, ia tidak berhasil. Isak pelan kini berhasil menembus kebisuan dan kebekuan. Remi lalu bangkit, sejenak mendekap Kugy yang masih terisak, dan ia melangkah pergi. Kebekuan dan kebisuan runtuh sudah.
Meski segalanya tampak mendung dan murung, sesuatu berhasil mencair di antara mereka. Kejujuran. Dan seolah bergerak bersama-sama, langit pun mulai merintikkan hujan. Apa yang lama tak terungkap akhirnya pecah, meretas, dan Bumi melebur bersamanya.
Sudah dua malam Keenan tiba di rumah Pak Wayan. Dan baru sore inilah Luhde kembali dari Kintamani. Luhde tampak terkejut melihat kehadiran Keenan yang sudah menunggunya di bale. Keenan sontak berdiri melihat Luhde. Wajahnya berseri. Tangannya merentang, siap mendekap. Namun, Luhde hanya berdiri di tempatnya. Tersenyum dan mengangguk sopan. Keenan memberitahu Luhde bahwa ia akan kemabli tinggal di Bali dan menghabiskan waktu bersama Luhde setiap hari. Luhdepun tidak terlihat bahagia akan hal itu.
Tiba-tiba sebuah pahatan kayu sebesar genggaman tangan ia selipkan kembali ke genggaman sang pembuatnya. Pahatan berbentuk hati dengan relief gelombang air. Sesuatu yang pernah ia begitu dambakan, sesuatu yang pernah ia minta dan akhirnya diberikan. Namun, Luhde sadar kini, yang bisa ia miliki hanyalah pahatan kayu berbentuk hati. Bukan hati yang sebenarnya. Sementara yang sesungguhnya ia damba bukanlah pahatan itu, melainkan sesuatu yang tidak pernah bisa ia miliki seutuhnya.
Keenan terdiam. Seiring angin yang bertiup serupa tiupan seruling, mendadak benaknya terisap ke masa lalu. Kembali ke malam saat ia mendengar angin berbunyi serupa, menggoyangkan kentungan bambu yang tergantung di tepi atap bale. Malam di mana ia membuat pilihan. Ucapan Luhde menyadarkannya. Ia hanya memilih untuk memberikan seonggok kayu berukir, sementara apa yang mendorongnya untuk mengukir tak pernah bisa ia berikan. Keenan mengatupkan matanya erat-erat. Semua ini terlalu getir untuk ia telan. Namun, inilah kejujuran. Keenan berdiri termangu menatap itu semua. Sebutir air matanya mengalir. Diusapnya pelan. Dan ia pun beranjak dari sana.
Dari kejauhan, seseorang memandangi mereka berdua. Pak Wayan merasa dirinya terpecah menjadi dua. Sebagian dirinya hancur bersama Luhde. Dan sebagian lagi bahagia tak terhingga untuk Keenan. Akhirnya, Keenan mendapat kesempatan yang tak pernah ia miliki dua puluh tahun yang lalu. Kesempatan untuk dipilih cinta, dan berserah pada aliran yang membawanya. Ke mana pun itu. Hati selalu tahu.
Keenan menyiapkan ranselnya. Ransel marun berinisial “K” yang ia pakai sejak kuliah. Mendudukkannya di jok depan. Sementara ia duduk di belakang kemudi. Sejenak Keenan menengadah melihat langit pagi yang cerah.
Tak ada lagi yang mengikatnya di mana pun. Tidak di sini. Tidak di Bali. Untuk pertama kalinya, Keenan mencicipi penuh arti kebebasan. Dan hari ini, ia memutuskan untuk pergi bersama angin. Bebas, seolah tanpa tujuan. Namun, angin selalu bergerak ke satu tempat.
Hari sudah sore saat ia tiba ke tempat ini. Kembali untuk yang ketiga kalinya. Tak ada lagi tempat yang lebih tepat untuk ia kunjungi. Keenan langsung memarkirkan mobilnya di tebing, bersiap menyambut gua kelelawar di bawah sana memuntahkan isi perutnya sejenak lagi.
Deburan ombak yang berderu dan bertempur di bawah sana menggetarkan sekaligus mendamaikan. Keenan telentang menghadap angkasa hingga warnanya mulai berubah jingga. Rasanya, ia bisa di sana selamanya. Tempat ini begitu sepi. Hanya alam dan dirinya yang berbaring hingga entah kapan. Keenan tak lagi berencana.
Tiba-tiba saja, pandangannya menggelap. Sebuah ransel jatuh tepat di samping kepalanya. Mata Keenan memicing. Mencoba mengenali sosok yang berdiri di atasnya. Pandangannya kembali tak terhalang. Orang itu kini ikut berbaring di sebelahnya. Kugy. Dan sepanjang ingatan Keenan, langit tak pernah seindah itu.
Hari ini, di tengah laut biru yang beriak tenang, segugus tangan mungil meluncur keluar dari bibir kapal nelayan. Ia sengaja ikut menumpang demi menghanyutkan perahu kertasnya. Tidak dari empang. Tidak dari kali. Tidak dari sungai kecil. Kali ini ia ingin melepaskannya di tengah laut. Suratnya terakhir untuk Neptunus.